Jumat, 16 September 2011

metode hammer test dan metode uji pembebanan (load test) pada pengujian stuktur beton

PENGUJIAN STRUKTUR BETON DENGAN METODE HAMMER TEST DAN
METODE UJI PEMBEBANAN (LOAD TEST)
dari Ir. MAWARDI LUBIS
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara

BAB-I

PENDAHULUAN
1.1. UMUM
Dalam pelaksanaan suatu konstruksi bangunan sering terdapat kegagalankegagalan
akibat kerusakan-kerusakan yang terjadi pada struktur atau bahagianbahagian
struktur pada waktu tahap pelaksanaannya maupun setelah selesai
dikerjakan. Kejadian ini antara lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang
sebelumnya tidak diperhitungkan misalnya kesalahan dalam perencanaan dan
pelaksanaan serta adanya pelampauan beban akibat perubahan fungsi dari
bangunan.
Dalam perencanaan suatu struktur bangunan biasanya didahului dengan
membuat beberapa asumsi-asumsi misalnya besaran gaya-gaya yang bekerja
dan mutu bahan yang akan digunakan yang pada akhimya syclus perencanaan
harus diuji kebenarannya. Pembuktian asumsi-asumsi yang dibuat mebutuhkan
pengujian-pengujian dan percobaan-percobaan yang dapat berupa Quality
Control dan Quality Assurance. Walaupun telah didahului oleh Quality Control dan
quality Assurance yang terencana sering terjadi bahwa hasil akhir mutu bahan
yang dilaksanakan masih tetap berada dibawah kwalitas yang diinginkan. Hal ini
dapat terjadi karena kesalahan dalam pelaksanaan/perencanaan, penurunan
kinerja struktur yang sudah berdiri (struktur eksisting) dan apa yang disebut
dengan pengaruh skala (scale etfecs) .
Kwalitas produk dalam skala besar, misalnya untuk beton yang akan
digunakan dalam pembuatan suatu bangunan yang diproduksi secara besar
besaran dicoba diramalkan berdasarkan kwalitas bahwa tes yang diacu dalam
skala kecil dilaboratorium (test kubus) sewaktu melaksanakan perencanaan
campuran teton (mixed design).
Penyimpangan kwalitas akhir misalnya pada struktur yang menggunakan
beton sebagai materialnya dapat menyebabkan terjadinya retakan-retakan pada
sebahagian atau keseluruhan dari struktur bangunan. Jika penyimpangan
kwalitas akhir ini dijumpai pada pelaksanaan suatu bangunan ada dua alternatif
yang dapat diambil dalam penanggulangannya.
Pertama mengganti sebahagian atau keseluruhan struktur yang tidak
memenuhi persyaratan dan yang kedua mengadakan penelitian secara
menyeluruh tentang kekuatan dan kekakuan konstruksi untuk kemudian memberi
rekomendasi terhadap penggunaan tats ruang perkuatan konstruksi tersebut.
Untuk mendapatkan informasi tentang kekhawatiran mengenai tingkat
keamanan struktur dari suatu komponen bangunan ataupun bangunan secara
keseluruhan akibat adanya faktor-faktor yang tidak diperhitungkan sebelumnya
diperlukan pengujian-pengujian.
Ada beberapa bentuk metode pengujian yang dapat digunakan
diantaranya pengujian-pengujian setempat yang bersifat tidak merusak seperti
pengujian ultrasonik dan hammer serta bersifat setengah merusak ataupun
merusak secara keseluruhan komponen-komponen bangunan yang diuji berupa
pengujian pembebanan (Load Test). Dasar-dasar dan tahapan-tahapan yang
dilakukan dalam pengujian struktur eksisting yang umum ditarapkan dapat
dikemukakan secara ringkas pada uraian berikut ini.

1.2. DASAR.DASAR PENGUJIAN STRUKTUR
alat pengujian tanah

1. Kesalahan perencanaan/pelaksanaan.
a. Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak atau
lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur.
b. Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur, yang
menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat baik dari segi
kekuatan maupun durabilitas (sifat kekedapan terhadap air yang
disyaratkan untuk bangunan seperti kolam renang).
c. Hasil Perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang
menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau
komponen-komponen struktur
2. Penurunan kinerja struktur eksisting yang diakibatkan oleh:
a. Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua,
atau karena serangan zat-zat kimiawi tertentu yang merusak (seperti jenisjenis
senyawa asam).
b. Adanya kerusakan pada struktur atau bagian-bagian struktur karena bencana
kebakaran atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan
tambahan akibat adanya ledakan disekitar struktur ataupun beban lainnya
yang tidak direncanakan.
c. Rencana pembebanan tambahan pada struktur karena adanya :
- Perubahan fungsi / penggunaan struktur.
- Penambahan tingkat (pengembangan struktur).
d. Syarat untuk proses jual beli atau asuransi suatu struktur bangunan. Untuk
hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada
tanda-tanda yang mencurigakan pada struktur.

1.3. TAHAPAN DALAM PENGUJIAN STRUKTUR.
1. Tahapan Perencanaan
Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah, pemilihan jenis test yang
akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi, penentuan
banyaknya pengujian yang akan dilakukan, dalam pemilihan lokasi pengujian
pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili
kondisi struktur yang sebenamya. Tahapan-tahapan yang umumnya lakukan
pada tahap perencanaan ini dapat diuraikan sebagai berikut ini:

a. Penyelidikan visual.
Pengamatan Visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan
permasalahan yang ada dilapangan. Dari pengamatan visual ini bisa
didapatkan imformasi mengenai tingkat layanan (service ability) dari
komponen struktur (seperti lendutan), baik tidaknya pengerjaan pada saat
pembangunan struktur/ komponen struktur (misalnya ada bagian keropos dan
"honeycombing" pada beton) material (misal pelapukan beton) maupun
tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton).
Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat
mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat
membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya.
Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis
retak yang mungkin terjadi pada struktur beton. 
Sementara itu jenis pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sample core dari struktur
baton yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat ssss
ililloririasi yang lebih akurat mengenai kuat tekan beton. Jadi, tingkat
keandalan hasil pengujian core tersebut tergolong tinggi. Namun, cara ini
membutuhkan biaya yang sangat tinggi yang memerlukan waktu pengerjaan
yang lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada
struktur. Jadi bisa dilihat disini bahwa sebagai langkah awal dalam memilih
jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada perlu
disusun terlebih dahulu tingkat prioritas dari hal-hal yang akan dijadikan
sebagai dasar pemilihan.
Namun perlu diperhatikan, bahwa biasanya tingkat
akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam
pemilihan jenis pengujian.
Biasanya untuk mengatasi kelemahan yang ada dari pengujian-pengujian
yang disebabkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan
beberapa jenis pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil
yang akurat, pengujian core dapat digunakan untuk mengkalibrasi hasil
pengujian ultrasonik dan hammer. Karena sifatnya yang hanya sebagai
mengkalibrasi, jumlah core yang diperlukan dapat diperkecil, sehingga
kerusakan yang timbul pun dapat diminimkan.
Untuk dapat membedakan jenis-jenis retak tersebut beserta penyebabnya,
perlu dilakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang
terjadi. Dari penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal
mengenai penyebab retak.

b. Pemilihan Jenis Pengujian.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pengujian struktur
terdiri atas :
- Tingkat kerusakan struktur yang diizinkan terjadi.
- Waktu penge~aan
- Tingkat keandalan hasil pengujian
- Jenis permasalahan yang dihadapi.
Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi
semua hal diatas secara optimal, sehingga diperlukan suatu kompromi.
Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton
yang sifatnya tidak merusak (seperti ultrasonik dan hammer test yang dapat
digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pad a struktur) biasanya
merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat dan murah.
Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian untuk proses
interpretasi parameter kuat tekan tergolong tinggi. Disamping itu, jika
kalibrasi ini tidak dilakukan secara baik dan benar, tingkat keandalan hasil
pengujian dengan menggunakan alaI-alaI tersebut akan menjadi rendah.

c. Jumlah dan Lokasi Pengujian.
Penentuan jumlah mengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh :
- Tingkat akurasi yang ditentukan (hubungannya dengan statistik).
- Tingkat kesulitan pengujian/pengambilan sample
- Biaya yang dibutuhkan
- Tingkat kerusakan.
Sebagai contoh, untuk pengujian hammer, untuk mengetahui kuat tekan
beton dengan tingkat akurasi yang tinggi, diperlukan pengujian minimal 10
titik didekitar lokasi yang diuji pada struktur atau komponen struktur beton.
Untuk jenis-jenis pengujian yang tidak merusak, karena kecepatan
pelaksanaannya, biasanya dapat dilakukan dalam jumlah yang besar yang
lokasinya dapat disebaran sehingga mencakupi semua daerah dari komponen
struktur yang akan diuji.

2. Tahapan Pelaksanaan.
Pada tahap pelaksanaan pertu diperhatikan tingkat kesulitan dalam
mencapai lokasi-lokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. Jika
diperlukan, sistem perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus
direncanakan dan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian
harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan.
Demikian juga dengan keselamatan tenaga pelaksana harus diperhatikan (tenaga
pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti "hard har” tali
pengikat dan lain-lain).

Perlu juga diperhatikan pada saat pelaksanaan, pengaruh gangguan yang
mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap gedung-gedung/strukturstruktur
disekitas lokasi struktur yang akan diuji.

3. Tahapan Interpretasi.
Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda :
a. Peninjauan mengenai kekuatan bahan.
b. Kalibrasi
c. Analisa / Perhitungan.

BAB-II

METODE HAMMER TEST
UMUM
Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak
beton. Disamping itu dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup
banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah.
Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban intact
(tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang
diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan
yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan
beton benda uji dapat memberikan indikasi kekerasan juga setelah dikalibrasi,
dapat memberikan pengujian ini adalah jenis "Hammer". Alat ini sangat berguna
untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. Karena
kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat,
sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat.
Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton, misalnya
keberadaan partikel batu pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan.
Oleh karena itu, diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran
disekitar setiap lokasi pengukuran, yang hasilnya kemudian dirata-ratakan
British Standards (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali
pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2.
Secara umum alat ini bisa digunakan untuk:
- Memeriksa keseragaman kwalitas beton pada struktur.
- Mendapatkan perkiraan kuat tekan beton.

2. SPESIFIKASI
Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. 4 atau
ASTM G80S-89.
hammer test

a. Kelebihan dan kekurangan "Hammer test".
Kelebihan :
- Murah
- Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat
- Praktis (mudah digunakan).
- Tidak merusak
Kekurangan :
- Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaban beton, sifatsifat
dan jenis agregat kasar, derajad karbonisasi dan umur beton. Oleh karena
itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan kondisi
yang sama.
- Sulit mengkalibrasi hasil pengujian.
- Tingkat keandalannya rendah.
- Hanya memberikan imformasi mengenai karakteristik beton pada permukaan

b. Kalibrasi.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, banyak sekali variabel yang
berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan peralatan
hammer. Oleh karena itu sangat sulit untuk mendapatkan diagram kalibrasi yang
bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan beton sebagai
fungsi dari pada jumlah skala pemantulan hammer dan dapat diaplikasikan untuk
sembarang beton.
Jadi dengan kata lain diagram kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap
jenis campuran beton yang berbeda. Oleh karena itu setiap jenis beton yang
berbeda, perlu diturunkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian
tekan sample hasil coring untuk setiap jenis beton yang berbeda dari struktur
yang sedang ditinjau. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai
konstanta untuk mengkalibrasikan bacaan yang didapat dari peralatan hammer
tersebut.
Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang
dibuat oleh produsen alat uji hammer sebagainya dihindarkan, karena diagram
kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran
agregat tertentu, bentuk benda uji yang tertentu dan kondisii test yang tertentu.

II. 3. PERSIAPAN DAN TATA CARA PENGUJIAN.
II. 3. 1. Persiapan. 

a. Menyusun rencana jadwal pengujian, mempersiapkan peralatan-peralatan
serta perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.

b. Mencari data dan informasi termasuk diantaranya data tentang letak detail
konstruksi, tata ruang dan mutu bahan konstruksi selama pelaksanaan
bangunan berlangsung.

c. Menentukan titik test.

d. Titik test untuk kolom diambil sebanyak 5 (lima) titik, masing-masing titik test
terdiri dari 8 (delapan) titik tembak, untuk balok diambil sebanyak 3 (tiga)
titik test masing-masing titik terdiri dari 5 (lima) titik tembak sedang pelat
lantai diambil sebanyak 5 (lima) titik test masing-masing terdiri dari 5 (lima)
titik tembak.

II. 3. 2. Tata Cara Pengujian.
a. Sentuhan ujung plunger yang terdapat pada ujung alat hammer test pada
titik-titik yang akan ditembak dengan memegang hammer sedemikian rupa
dengan arah tegak lurus atau miring bidang permukaan beton yang akan
ditest.
b. Plunger ditekan secara periahan-lahan pada titik tembak dengan tetap
menjaga kestabilan arah dari alat hammer. Pada saat ujung plunger akan
lenyap masuk kesarangnya akan terjadi tembakan oleh plunger terhadap
beton, dan tekan tombol yang terdapat dekat pangkal hammer.
c. Lakukan pengetesan terhadap masing-masing titik tembak yang telah
ditetapkan semula dengan cara yang sama.
d. Tarik garis vertikal dari nilai pantul yang dibaca pada grafik 1 yaitu hubungan
antara nilai pantul dengan kekuatan tekan beton yang terdapat pada alat
hammer sehingga memotong kurva yang sesuai dengan sudut tembak
hammer.
e. Besar kekuatan tekan beton yang ditest dapat dibaca pada sumbu vertikal
yaitu hasil perpotongan garis horizontal dengan sumbu vertikal.
Oleh karena itu mutu beton yang dinyatakan dengan kekuatan karakteristik α bk
didasarkan atas kekuatan tekan beton yang diperoleh pada saat pengetesan
dilaksanakan perlu dikonversi menjadi kekuatan tekan beton umur 28 hari.


BAB -III

METODE UJI PEMBEBANAN (LOAD TEST)
 III.1. UMUM.
Uji pembebanan (load test) adalah merupakan suatu metode pengujian
yang bersifat setengah merusak atau merusak secara keseluruhan komponenkomponen
bangunan yang diuji. Pengujian yang dimaksud dapat dilakukan
dengan beberapa metode salah satu diantaranya adalah metode uji beban (Load
Test).

Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat
keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan
peraturan bangunan yang ada, yang tujuannya untuk menjamin keselamatan
umum. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian
struktur yang dicurigai tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan
berdasarkan data-data hasil pengujian material dan hasil pengamatan.

III. 2. PEMAKAIAN UJI PEMBEBANAN.
 Uji pembebanan biasanya perlu dilakukan untuk kondisi-kondisi seperti
berikut ini:

a. Perhitungan analistis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena
keterbatasan imformasi mengenai detail dan geometri struktur.

b. Kinerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kwalitas
bahan, akibat serangan zat kimia, ataupun karena adanya kerusakan flsik
yang dialami bagian-bagian struktur,akibat kebakaran, gempa, pembebanan
yang berlebihan dan lain-lain.

c. Tingkat keamanan struktur yang rendah akibat jeleknya kwalitas pelaksanaan
ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak
terdeteksi.

d. Struktur direncanakan dengan metode-metode yang non-stardard, sehingga
menimbulkan kekhawatiran mengenai tingkat keamanan struktur tersebut.

e. Perubahan fungsi struktur, sehingga menimbulkan pembebanan tambahan
yang belum diperhitungkan dalam perencanaan.

f. Diperlukannya pembuktian mengenai kinenja suatu struktur yang baru saja di
renovasi.

III. 3. JENIS-JENIS LOAD TEST.
 Uji pembebanan dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu :
a. Pengujian ditempat (in.situ) yang biasanya bersifat non-destructive.
b. Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya.

Pengujian biasanya dilakukan dilaboratorium dan sifat merusak.
Pemilihan jenis uji pembebanan ini tergantung pad a situasi dan kondisi
tetapi biasanya cara kedua dipilih jika cara pertama tidak peraktis (tidak
mungkin) untuk dilaksanakan. Selain itu pemilihan jenis pengujian bergantung
pada tujuan diadakannya load test. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui
tingkat layanan struktur, maka pilihan pertama tentunya yang paling baik. Tetapi
ingin mengetahu kekuatan batas dari suatu bagian struktur, yang nantinya akan
digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang
mempunyai kondisi yang sama, maka cara kedualah yang pilih.

III. 3. 1. Pengujian Pembebanan di tempat (In-Situ Load test).
Tujuan utama dari pembebanan ini adalah untuk memperhatikan apakah
prilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi
persyaratan banguan yang ada yang pada dasarnya dibuat agar keamanan
masyarakat umum terjamin. Prilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan
pengukuran lendutan yang terjadi. Selain itu penampakan struktur pada saat
retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar.
Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan
diberikan dalam uraian berikut ini.

a. Persiapan dan Tata Cara Pengujian.
 ACI-318’89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika
struktur beton berumur lebih dari 56 hari. Pemilihan bagian struktur yang
akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan :
a. Permasalahan yang ada
b. Tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji.
c. Kemudahan pelaksanaan.

Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan
beban ujinya juga harus dipertimbangkan/dilihat apakah kondisinya baik dan
kuat Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi
beban-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan bagian struktur yang diuji.
Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian
struktur yang dimaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan
yang direncanakan.
Hal ini kadang kala sulit direncanakan, terutama untuk
pengujian struktur lantai. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara
bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya.
Sehingga Timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("Load
sharing effect").
Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen nonstruktual
yang menempel pada lagian struktur yang akan diuji, sebagai
contoh "ceiling board", Elemen non struktural ini dapat berfungsi
mendistribusikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang
sebenarnya tidak saling berhubungan.
Untuk menghindari terjadinya distribusi
beban yang akan diinginkan maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya
diisolasikan dari bagian struktur yang ada disekitarnya.

ACI-318- ’ 89 mengisyaratkan bahwa besamya beban yang harus
diaplikasikan selama "load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada
struktur) adalah :
Beban total = 0,85 (1,4D + 1,7 L)
Dimana : D = beban mati
L = benda hidup (termasuk faktor reduksinya)
Beban mati harus diaplikasikan 48 jam sebelum "load test" dimulai. Sebelum
beban diterapkan, terlebih dahulu dilakukan pembacaan lendutan awal yang
nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah
penerapan beban. Pembebanan harus dilakukan secara bertahap dan
perlahan-lahan, sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pede struktur.
Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji
selama 24 jam, pembacaan lendutan bisa dilakukan. Setelah pembacaan
beban bisa dilepaskan dari struktur. Dua puluh empat jam setelah itu
pembacaan lendutan dilakukan kembali.

Kriteria umum yang harus dipenuhi dari hasil load test ini adalah struktur
tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda keruntuhan seperti terbentuknya
retak-retak yang berlebihan atau menjadi lendutan yang melebihi persyaratan
keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan.
Sebagai contoh, ACI mensyaratkan bahwa untuk balok/lantai diatas tumpuan:

L2 δ maks < 20000 h
dimana, δ maks = lendutan maksimum yang terjadi, inch
L = Panjang bentang, inch
h = Tinggi penampang
Persyaratan lendutan diatas bisa dilanggar tapi dengan syarat lendutan yang
terjadi setelah beban-beban bekerja yang dilepaskan haruslah lebih kecil dari
25 % δ maks.

Jika struktur gagal dalam "load test", maka :
Struktur tidak boleh digunakan sama sekali jika sudah terjadi tanda-tanda
kerusakan struktural yang fatal).
Struktur masih bisa digunakan, tapi dengan pembatasan beban-beban yang
bekerja sehingga sesuai dengan kekuatan struktur yang sebenarnya. Jadi
disini fungsi struktur dikurangi.

b. Teknik Pembebanan.
Pembebanan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga laju distribusi
pembebanan dapat dikontrol (gambar 1). Beban yang bisa digunakan
diantaranya air, bata/batako, kantong semen/pasir, pemberat baja dan lainlain.
Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi
pembebanan yang diinginkan, besarnya total beban yang dibutuhkan, dan
kemudahan pemindahannya.

c. Pengukuran.
Parameter yang biasanya diukur dalam "load test" adalah lendutan, lebar
retak. dan regangan. Gambar 2 memperlihatkan aplikasi beberapa jenis alat
ukur dalam "load test". Lebar retak yang terjadi biasanya diukur dengan
mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang
diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda (gambar 3). Cara
pengukuran adalah dengan membandingkan lebar retak yang terjadi, lewat
peneropongan dengan mikroskop dengan lebar garis-garis berskala tersebut.
Pola retak-retak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan
garis-garis yang mengikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol
berwarna (diujung garis-garis tersebut dituliskan imformasi mengenai tingkat
pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi).


Gambar 1: Teknik Pembebanan
Teknik pembebanan
Gambar 2: Teknik Pengukuran

Teknik Pengukuran

Gambar 3: Mikroskop untuk Pemeriksaan retak-retak pada beton
alat-alat pemeriksaan

III. 3. 2. Uji Merusak
Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian ditempat (in-situ) tidak
mungkin dilakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui
kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan
dalam menilai bagian-bagian struktur lainnya yang identik dengan bagian
yang diuji. Pengujian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang
besar, terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang
akan diuji dilaboratorium. Namun, walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan
dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif. Mengenai
teknik pelaksanaan dalam pengukuran untuk pengujian jenis ini sama dengan
teknik-teknik yang sudah diuraikan sebelumnya.

BAB - IV
PENUTUP KESIMPULAN
1. Methode Hammer Test
a. Pengujian jenis ini dilakukan pada pengujian-pengujian setempat dan bersifat
tidak merusak struktur. Dapat digunakan dengan mudah (praktis),
pengukuran dapat dilakukan dengan cepat dengan memperoleh data yang
cukup banyak dan biaya murah.

b. Beton yang diuji haruslah dari jenis dan kondisi yang sama karena hasil
pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaman beton, sifat
dan jenis agregat kasar, drajad kombinasi dan umur beton.

c. Tingkat keandalan rendah, sulit mengkalibrasi hasil pengujian dan sifatnya
hanya memberikan informasi mengenai karakteristik teton pada permukaan.

2. Metode Uji Pembebanan.
a. Pengujian dilakukan apabila perhitungan analitis tidak mungkin dilakukan
karena keterbatasan informasi, kinerja struktur sudah menurun, tingkat
keamanan yang rendah dan perubahan fungsi struktur.

b. Pengujian dapat berupa pengujian ditempat dan bagian-bagian struktur yang
penggunaannya tergantung pada situasi, kondisi dan tujuan dilakukannya
pengujian yang bersifat setengah merusak maupun merusak secara
keseluruhan komponen-komponen struktur.

c. Jika terjadi kerusakan yang fatal setelah dilakukan pengujian, struktur tidak
boleh digunakan sama sekali, kalaupun masih digunakan dengan pembatasan
beban-beban yang bekerja atau fungsi struktur dikurangi.

DAFTAR PUSTAKA
BATHE, K.J Numerical Method In Finite Element Aanolisis, Prentic Hall, New York,
1982
Yayasan Dana Normalisasi Indonesia, Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971
(PBI-71) NI-2 Dep. PU dan Tenaga listrik, Dirjen Cipta karya LPMB.
TIMOSHENKO AND YOUNG, Theon of Elasatificity.
UGURAL, Advance Strength and Appilied Elasticity

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar